Sabtu, 24 Februari 2018

Jarum Suntik

Sebelumnya hari sabtu, gue enggak ingat lagi, kira-kira dua atau tiga hari sebelum hari sabtu, gue dan teman sekelas ditugaskan guru bahasa indonesia untuk mencari sebuah cerpen dan dan dijadikan tugas resensi. Bebas mau nyari di koran, majalah, di jemuran kain maupun dibawah tempat tidur.

Gue inget kalo dirumah, dulunya, almarhum ayah langganan koran setiap harinya. Jadi bisa dipastikan koran dalam satu minggu itu bisa numpuk. Ada satu spot di ujung ruang tamu tempat peletakan koran-koran yang telah disusun rapi. Namun setelah pindahan rumah, mungkin sudah digunakan untuk berbagai keperluan dan bisa jadi letak nya udah kemana. Jadi gue gak bisa nyari tugas kali ini. Ya gue berleha-leha dulu, berpikiran kalo temen gue juga banyak yang enggak bawa koran keesokan harinya.

Hari itu hari Sabtu, beberapa menit setelah jam penjas selesai, dan baju olahraga gue sedikit mengeluarkan bau yang enggak mengenakkan, basah karna keringat. Kebetulan kelas gue dapet jatah jam olahraga di sekitaran jam yang mana matahari masih awet panasnya. Setelah berganti pakaian, gue teringat dengan tugas bahasa indonesia, merensensi cerpen,

"Pada udah bawa koran belum, tugas bahasa indonesia" seru gue.

Banyak jawaban yang bilang, belum.

Setelah mengganti pakaian dan menjadi rapi lagi, gue sama temen-temen pergi ke perpustakaan. Jarak dari kelas menuju perpustakaan sekolah itu bisa dibilang hanya beberapa langkah, bisa saja 20 langkah, 30 langkah, atau 35 langkah. Namun setiap gue pergi ke perpus enggak pernah ngitung juga sih.

Tibalah di pintu masuk perpus. Di meja depan tempat peminjaman buku telah duduk satu orang yang bertugas menjadi pustakawan. Kami menanyakan koran hari minggu apakah ada, jawabnya liat saja di sana. Sambil menunjukkan ruang tersebut. Setelah mengambil dan meletakkan ke meja lalu mengobrak abrik beberapa tumpukan koran yang tersedia. Untuk rubrik yang ada memuat cerpen sendiri biasanya ada pada hari Minggu. Namun kami tidak menemukannya sama sekali. Sebenernya enggak harus di koran juga sih. namun boleh di cari di internet lalu di print. Kebetulan di pustaka ada dua unit komputer yang digunakan oleh pustakawan untuk keperluan banyak hal, dan siswa juga boleh menggunakannya untuk keperluan tugas.

Tapi masalahnya ada disini.

Di meja komputer pertama terlihat ada guru yang sedang menggunakannya. Dan di meja komputer yang satunya lagi ada seorang anak kecil, gue rasa ini anak nya pustakawan yang sedang bermain game. Usianya tiga sampai empat tahunan kira-kira. Ketika kami berempat mencoba mendekatinya, seketika dia mengambil ancang-ancang, seperti manusia yang ketakutan, membuka laci meja komputer dan terlihat mengambil suntik tinta printer, lalu menunjukkannya kepada kami!

Suntik printer, sebuah benda, benda yang memiliki jarum, dan besinya itu cukup runcing!

Dan juga dipegang oleh anak kecil yang bisa dibilang belum bisa menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. Kami pun sedikit menjauhi meja komputer tersebut. Bisa saja jarum suntik itu melayang, dan ...(bisa dibayangkan). Untuk menghindari cedera yang cukup serius dan bahkan bisa dibawa ke ugd. Kami ingat kami akan ujian nasional, lebih baik mengamankan diri saja.

Balik grak, langsung keluar dari pintu perpus. Diluar kami berlari-larian kecil sambil tertawa cekikikan. Bukan takutnya, namun ekspresi anak kecil yang mengacungkan suntik printer tadi juga lucu.

Kelanjutan cerpen yang kami cari? Kami menemukannya di sebuah kantin yang juga menyimpan beberapa koran bekas.

Share:

Rabu, 07 Februari 2018

Demam Mobile Legends di Kelas

An enemy has been slain...

Kira-kira kalimat itulah yang sering gue dengerin dikelas.

Banyak dari temen di sekolah, dan lebih terkhususnya teman sekelas gue, terkena sindrom candu Mobile Legend, alias yang biasa diapanggil ML. Udah kayak orang aja. Dan perhatian, bukan juga making love ya.

Dimana-mana, mau yang tua maupun yang muda, banyak yang terserang candu main Mobile Legend ini. Kalo gue soal game ini, bisa dikatakan telat buat tahu serunya game ini. Secara gue gak terlalu suka game bergenre mmorpg ini. Ya contohin aja sama game Dota2, orang udah koar-koar tentang game itu, tapi ya gue slow-slow aja. Enggak terlalu minat. Jujur, gue lebih berminat ke game open world gitu, dan suka game genre simulation juga kayak GTA, terus The Sims gitu. Gue udah pernah nyoba main sih Dota2, tapi enggak sampe 2 jam gue bosan dan merasa gak asik gitu, mungkin apa gue enggak ngerti mainnya, hmm ya bisa aja.

Berkat game mobile legend ini, orang-orang jadi suka memiringkan hapenya. Hal ini juga terjadi saat game Clash of Clans menjangkiti lapisan masyarakat pada waktu ini. Ya kalo hapenya gak dimiringin gak bisa main. Kalo orang disamping atau disekitar lo udah miringin hapenya, fix itu orang lagi main game, atau bisa jadi nonton youtube gratis di youtube go, karna ga punya kuota.

Di kelas gue, banyak yang suka mainin mobile legend. Kalo penampakannya para cowok-cowok udah ngumpul di belakang, siap dengan hapenya masing-masing, udah deh, mabar pun dimulai. Mabar = main bareng.

"Woy mabar, yok"

Itu aja yang sering diucapin anak-anak di kelas. Gue? Biarin aja dah tuh anak-anak. Mending ke kelas nya si doi. Lagian di hape udah enggak ada lagi tuh game. Udah pernah main, namun gimana ya bagi gue enggak seru aja gitu.

Ada satu temen gue yang gila banget sama ini game, hari-harinya pun bisa dikatakan bersama game mobile legend ini. Bisa-bisa temen gue ini nyaman sama game ini, akhirnya timbul perasaan suka, dan akhirnya pacaran. Astaga. Jangan deh. Kadang dia bisa tidur hingga larut banget, misal baru jam 4 pagi baru tidur.

Jam-jam yang rekomended buat anak-anak ml mabar, khususnya di kelas: jam istirahat, dan jam kosong. dan kadang ada yang nyuri kesempatan main saat lagi belajar. Greget kali yak.

Tapi gue yakin game ini gak akan bertahan lama, mungkin dia akan bernasib sama dengan pendahulunya.


Share:

Selasa, 06 Februari 2018

Sebuah Catatan Akhir SMA

Mungkin ini adalah tulisan terpanjang yang pernah gue buat, jadi nikmati ya.


Akhir-akhir ini waktu yang disediakan 24 jam lamanya dalam sehari tampaknya terasa sedikit bagi siswa kelas 12, tingkat akhir. Akibatnya, dengan jatah waktu yang 24 jam yang menurut gue singkat susah buat membagi waktu antara belajar dan hal diluar belajar. Mulai dari tugas-tugas, try out bertingkat, percobaan UNBK, dan ujian ujian berikutnya. Belum lagi ditambah dengan belajar tambahan di sore hari. Waktu terasa singkat dari pagi hingga malam pun datang lagi, itu terasa sangat singkat. Sebuah suasana yang akan dirasakan oleh setiap anak kelas 12 akhir.

Tahunnya akademis, ya tahun 2018 ini memang tahunnya akademis. Ujian, ujian, tes, dan tes. Semua siswa terus berlatih dan berusaha untuk melakukan hal terbaik dimilikinya, untuk menempuh masing-masing ujian akhir. Tak terkecuali gue.

Maka untuk itu, gue berpikiran untuk mengumpulkan cerita, pengalaman, dan hal-hal yang terjadi di masa putih abu-abu dengan menuliskan sebuah Catatan Akhir SMA. Sebelum semuanya berakhir, gue niatkan untuk menuliskannya, mungkin aja nanti gue lupa, dan gak sempat menuliskannya. Gue gak ingin enggak ada sesuatu hal yang dapat dikenang nantinya selepas SMA ini, yaa terlepas masih ada foto-foto semasa sekolah. Apa masa sekolah hanya dihabiskan untuk soal nilai dan tugas? No. I want to keep reminds a whole moments. Dengan menuliskan cerita tentang catatan akhir ini, nantinya gue bisa mengenang kembali masa sma yang menurut gue patut diabadikan. Kali aja pas nanti udah duduk di bangku universitas, gue liat tulisan ini di blog, gue bisa senyum-senyum sendiri sambil meratapi susahnya tugas kuliah nantinya (?)


Muhammad Afif

Sebuah Catatan Akhir SMA,


Melanjutkan sekolah ke jenjang sekolah menengah atas setelah menyelesaikan tugas untuk duduk di bangku biru dongker, itu memang pilihan gue. Karna nantinya setelah 3 tahun di SMA gue ingin melanjutkan ke tingkat universitas. Awalnya sempat memilih beberapa sma favorit di kota gue, namun setelah beberapa tes yang gue hadapi, gue gagal lulus disana. Tes di sma favorit di luar kota, namun kenyataannya kembali sama, nilai belum memenuhi syarat untuk masuk ke sekolah tersebut. Ya namanya sekolah favorit, tentunya mematok standar yang tinggi. Rasa kecewa itu muncul, tambah lagi ada beberapa teman dekat lulus disana, membuat gue iri. Hanya dengan sebuah keikhlasan untuk menerima semua ini. Gue mencoba untuk daftar sebuah sma negeri yang jaraknya dekat dengan rumah.

Dan disinilah akhirnya perjalanan hidup gue selanjutnya, gue diterima, dan resmi menjadi siswa baru. Setelah masuk kesini kekecewaan itu terbayar lunas. Dan juga banyak temen-temen yang dari smp dulu juga diterima disini. Alhamdulillah semuanya udah diatur dengan baik.

Sebelumnya, gue pernah saling sharing dengan senior pas smp dulu dan ia juga bersekolah di salah satu sma favorit yang gue gagal masuk disana. Ia pernah bilang,

"Dimanapun sma/sekolahnya, you can be a star"

Akhirnya, setelah beberapa hari, berjalan minggu, dan bulan, gue menikmati ritme lingkungan sekolah. Mulai meng-enjoykan diri. Gue bertemu dengan teman-teman, dan juga, pada awalnya gue mengira kelas yang  gue dapati pas awal sekolah, gak asik sama sekali. Namun, setelah semuanya mengalir, enggak seperti yang gue bayangkan. Perlahan suasana kelas cair, gue dengan satu sama lain saling membaur, mulai dekat, dan timbullah kebersamaan itu.

Disini gue belajar bahwa, tidak semua yang kita pikirkan itu akan buruk, cukup kita jalani aja apa adanya. Gue merasakan sekali. Cuman, pada awalnya aja kita belum terbiasa. Biasa karena terbiasa. Pas awal pendaftaran masuk ke sma ini, gue enggak berminat, namun setelah dihadapkan dengan pilihan terakhir buat masuk ke sma ini, gue terima, dan pada akhirnya semuanya berjalan baik-baik saja.

Bahkan, setelah tiba masa kelas 11, pembagian jurusan IPA dan IPS. Kami pun memilih jalan masing-masing. Disaat inilah gue merasakan kerinduan kelas yang heboh, suasana yang asik di dalamnya. Ini ter


Cukup jalani saja dengan hati yang lapang dan ikhlas.

Tak terasa gue sudah berada di ujung gerbang untuk melepas seragam putih abu-abu ini. Baru kemarin ini, untuk pertama kalinya masuk gerbang sekolah, dan rambut dipendekin oleh kakak-kakak senior saat masa orientasi, namun semuanya berjalan dengan cepat. Waktu berjalan cepat dan tidak bisa dihalang-halangi, bahkan untuk diulang saja tak bisa. Mungkin masa yang paling cepat itu saat 3 tahun sma, tiga tahun bangku smp, dan yang paling lama menurut gue adalah masa sd.

Kalo dijelasin, masa-masa itu menurut gue kurang lebih seperti ini:

Masa SD - Masa dimana kita masih sangat lugu, buat jajan aja masih ragu-ragu (kelas 1). Mulai naik tingkat, mulai tampak sikap nakal ini itu. Tampang masih kelihatan baby face dan sedikit culun.

Masa SMP - Disini nih masa pubertas itu datang, mulai berubah semuanya. Mulai suka dengan lawan jenis, masa pertemanan dimulai. Jujur aja disinilah gue baru merasakan indahnya persahabatan, dan pada waktu itu pernah gue sama temen-temen deket bikin sebuah grup sahabatan gitu. Juga disini keseruan akan banyak hal terjadi, jati diri mulai tampak. Mungkin kalo diceritain keseruan masa smp bisa panjang sekali.

Masa SMA - Masa dimana kedewasaan seseorang akan diuji. Disini mulai dramatis. Wajar saja, kita menempuh tingkat yang lebih tinggi dari sebelumnya. Masalah dengan teman, dengan guru, tugas mulai menumpuk, patah hati, emosi naik turun, ya pokoknya semua yang terjadi di sma ini tampak sedikit rumit dari masa sebelumnya. Karna di sma ini kita dituntut untuk bisa lebih dewasa, dan menyikapi segala hal dengan tenang. Mulai mengetahui mana yang pantas dilakukan dan yang buruk.

Jadi karena ini sebuah catatan akhir sma yang akan gue tulis, gue akan sedikit bercerita bagaimana masa sma gue berjalan.


JADI, apa aja sih yang, especially gue, dipelajarin di SMA itu? Apa cuman buat nantinya ijazah gagah dengan nilai yang tinggi semata?

Masa SMA bukan sekedar nilai matematika 95 di ijazah, bukan hanya sekedar berdiri di depan karna mendapat peringkat kelas, bukan sekedar gagah-gagahan memakai seragam putih abu-abu.

Namun lebih dari itu...

Gue baru menyadari itu semua disaat kelas 12 akhir ini. Merenungkan apa saja yang telah gue perbuat dan alami di sekolah ini. Sekolah, dan yang gue maksudkan disini ialah SMA, adalah tempat dimana kita mencari ilmu selama tiga tahun dan merupakan jembatan untuk melanjutkan ke jenjang universitas. Gue pahami setelah kita berlelah-lelahan mencari ilmu dengan belajar dengan giat, tentunya kita berharap akan diberi ganjaran dengan nilai yang memuaskan. Berjuang untuk ulangan harian, belajar giat, menghafal untuk ujian kenaikan kelas, dan bisa sukses dalam menjawab soal ujian nasional dengan nilai yang baik. Well, tapi apa benar tujuan hakiki dari sekolah itu hanya mengumpulkan nilai sebanyak-banyaknya?

"Sekolah buat nyari ilmu?" atau "sekolah nyari nilai?"

Mungkin, dengan spontan banyak dari kita akan condong menjawab sekolah buat cari nilai.

Disini gue akan memberikan sudut pandang, ilmu dan nilai sama-sama penting, perlu diseimbangkan. Namun gue berpendapat bahwa tujuan utama dari sekolah itu adalah mendidik karakter. Buat apa nilai akademis tinggi namun karakternya tidak baik? Itulah sebenarnya. Masih ingat kasus penganiayaan yang berujung kematian yang baru saja terjadi baru-baru ini?

Lebih baik jika siswa mampu menyeimbangkan antara akademis dengan karakter yang baik.

Waktu awal-awal baru masuk lingkungan sma, gue juga sering melanggar peraturan yang sekolah telah buat, seperti razia rambut, menggunakan gelang/perhiasan. Gue sempat bertanya-tanya kenapa aturan itu harus ada dan hubungannya rambut panjang dengan masa depan itu apa, gue sempat berpikiran gitu. Namun makin kesini gue paham kalo itu semua adalah aturan, aturan yang harus ditaati warga sekolah khususnya siswa. Kita di sekolahkan untuk dididik supaya disiplin dan taat aturan. Bukankah begitu? Disaat razia rambut datang dan tanda-tandanya guru masuk ke kelas membawa sebuah gunting, dan, rambut gue dipotong, hanya bisa menerima dengan lapang dada, kesal sedikit, namun inilah aturan. Toh nantinya selepas sma bakalan kangen dengan momen itu, kangen datang ke sma, atau bahkan ketemu dengan guru yang pernah merazia rambut kita.

"Eh bapak, masih ingat sama saya bapak ngegunting rambut saya, ngehehe." dan obrolan pun cair.

Masa SMA mengajarkan gue tentang arti pendewasaan diri akan banyak hal.


Kenangan apa sih yang bakalan gue kangenin saat masa sma telah usai nanti? 

Tentunya banyak sekali, mulai dari yang bersifat suka maupun duka telah gue alami. Memang bener ya, bak kata orang, masa sma itu adalah masa yang paling indah. Setiap orang mungkin memiliki makna kata "indah" itu sendiri. Makna indah sma menurut gue indahnya kebersamaan bersama sahabat, teman seperjuangan, temen-temen osis dan juga masa-masa indah bersama dia. Penekanan sedikit pas kata "dia". Uhuk.

Kangen suasana sekolah juga pastinya. Kata orang sih selepas kita udah jadi alumni nanti, entah kenapa, selalu sekolah tersebut mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Yang dulunya pas kita sekolah ruangan perpus masih jelek, eh pas kita ngunjungin saat udah jadi alumni itu perpus udah bagus aja. Kayaknya terkena hukum alam. Disaat sudut pandang gue masih jadi siswa, tiap tahun kakak kelas yang sudah jadi alumni datang kesekolah selalu bilang, "sekolah makin keren aja ya bla..bla..blaa..". Jangan-jangan nantinya pas gue mampir ke sekolah buat ngambil ijazah sekolah udah make lift ya?

Kangen guru-guru dengan berbagai macam genre. Ada yang baik, ada yang killer, ada yang ngomong suka kenceng, ada yang suka ngasih tugas mulu, ada yang pencerita ulung. Tapi terlepas dari itu semua, we love you bapak-dan ibuk! Semoga apa yang beliau berikan selama di sekolah bisa gue ingat dan berguna di kehidupan gue yang masih panjang ini.

Kangen tempat tongkrongan, maksudnya kantin sih. Bentar gue itung dulu...dari enam kantin yang ada di sekolah, tempat yang sering gue tongkrongin ada empat. Masing-masing memiliki keenakan dan kekurangan masing-masing. Kalo orang minang bilang, "lain lain lamak". Biasanya kalo guru lagi gak masuk alias jam kosong, sendiri atau juga ngajak temen, mampirlah gue ke kantin. Ngambil satu tahu isi dan juga beli minuman, ini cuman kalo buat ngeganjel perut. Kalo lagi lapar sekali baru deh pesan nasi goreng. Setelah siap ngunyah-ngunyah, gue gak langsung ke kelas gitu, ngobrol ngalor ngidul dulu sama temen, ya ngomongin apalah gitu. Pernah kejadian, guru pkn gue keluar sebentar karena ada keperluan. Nah jadi ada kesempatan buat ke kantin, jadi gue pergi ke kantin. Kebetulan jarak kantin dan kelas itu berdekatan sekali, mungkin kalo mau liat kantin, bisa buka jendela kelas dikit, kantinnya udah kelihatan saking deketnya. Namun seketika terdengar lah bunyi bel tanda pergantian jam pelajaran, otomatis jam pelajaran pkn tadi selesai, namun ibuk itu masuk lagi dan dia ngambil absensi sebelum keluar! Astaga gue cemas, temen gue yang dikelas ngodein buat cepat masuk ke kelas. Dan dengan terburu-buru abis bayar jajan, saat tiba di pintu kelas terlihat wajah marah ibuk pkn gue.

"Ibu buat absen saja ya yg terlambat masuk ini!"

Kangen semuanya tentang sekolah putih abu-abu.


Ada banyak momen dan pelajaran yang dapat dikenang dan dipetik dari kehidupan di sma yang bakalan gue akan ingat selalu. Yang akan menjadi bagian obrolan ketika reunian nanti. Mungkin reunian kecil-kecilan dulu ya sama sahabat. Kalo reunian satu sekolah mah susah ngumpulinnya. Nanti bakalan tiba masanya ngajak nongkrong bagi yang lagi libur kuliah, ngomongin tentang kampus baru masing-masing, jurusan, dosen. Obrolan pun seketika udah mulai berubah pembahasannya. Nanti bakalan tiba masanya buat ngumpul itu susah, beda kali saat jaman sma yang kalo mau ngumpul doang tinggal ngabarin aja satu sama lain, dan itupun kadang juga susah. Menurut gue ya masa-masa akhir sma ini kayaknya bener-bener harus menikmati waktu sama temen ya. Di sela-sela waktu luang sibuk belajar, ya ngapain gitu ngumpul sama temen, pergi main bareng gitu. Buat momen sebanyak-banyaknya. Kadang kita hanya bisa menyesal dibelakang nantinya karna waktu sama temen hanya sedikit pas masa sma. Tapi harus diimbangi juga dengan manajemen waktu yang baik. Ada waktunya main ada waktunya juga buat belajar. Intinya harus sama-sama berjuang untuk masa depan, dan lulus bareng!

Tulisan ini gue buat mungkin sebagai intro dari "Sebuah catatan akhir sma", masih banyak hal-hal lain yang ingin gue tulis. Nah, jadi di beberapa tulisan gue selanjutnya, gue akan menulis beberapa cerita pendek yang gue alami di akhir-akhir masa sekolah ini. Ya itung-itung untuk bisa dibaca lagi pas udah gak jadi siswa lagi. Tulisan tersebut akan gue beri tag atau label Catatan akhir sma. Gue akan berusaha untuk menuliskan semuanya semampu gue. Misal nantinya teringat dipikiran gue satu outline, "belajar sore persiapan Unbk" nah nantinya itu akan menjadi judul tulisan yang gue akan usaha buat ngembangin supaya menjadi tulisan. Entah ini akan bisa konsisten atau tidak, yang penting niat nulis dulu. Doakan gue ya!


Sebuah Catatan Akhir SMA,

Muhammad Afif, 2018.

Entah berapa kali lagi bel di sekolah akan berbunyi, bisa dihitung. Namun yang jelas, tidak lama lagi sebuah bel berbunyi panjang di sekolah, namun bel pertanda pulang ,tapi pertanda masa sekolah telah usai.

Terima kasih, masa-masa sma.

Share:

Rabu, 31 Januari 2018

5 Lagu Fiersa Besari Yang Harus Kamu Dengerin

Berawal dari instagram gue yang banyak nge follow akun-akun toko buku, quotes, komunitas buku, dan akun sejenis, sering gue melihat dan mendapati penulis penulis beken macam Pramoedya Ananta Toer, Ahmad Fuadi, Dee Lestari, Tere Liye, Eka Kurniawan, dan masih banyak lagi. Ternyata baca kutipan kutipan itu membuat kita mengetahui penulis yang tidak kenal sebelumnya. Ya nambah nambah pengetahuan tentang penulis indonesia lah, biar entar ditanyain sama orang gue bisa menjawabnya. Biar dikira bookworm garis keras gitu. Padahal mah belum seberapa.

Terus terus, gue bertemu dengan salah satu kutipan yang gue baca di instagram itu, perihal kutipannya yang mana gue lupa. Dia adalah orang yang menulis buku Konspirasi Alam Semesta. Awalnya sih enggak baca, namun sekilas liat terus skip. Lama kelamaan di tab explore instagram gue banyak memuat kutipan dari penulis yang satu ini, ternyata dia juga menulis buku Garis Waktu. Tiba pada waktu itu, gue ketemu lagi dan membaca kutipannya, dan gue mikir, eh ini nama penulisnya cewek ya pasti? Fiersa Besari?


Kan kalo denger sekilas bisa dibilang ini nama cewek. Tapi ternyata setelah ditelaah dengan bantuan google, astaga, ini menambah daftar panjang "anggapan" gue terhadap penulis-penulis yang namanya agak sedikit aneh, dan lebih condong ke nama cewek. Setelah JK. Rowling dan Tere Liye, gue kembali tertipu, bahwa mereka itu beda dengan apa yg gue pikirin. JK Rowling gue kira cowok, dan Tere Liye gue anggap cewek, dan keduanya salah besar. Buat penulis nya, maafkan ya. Maafkan pembacamu ini yang kadang kudet.

Kembali lagi dengan penulis buku Catatan Juang ini, Fiersa Besari. Cowok, dan lihat gambarnya memiliki rambut yang gondrong, dan tapi akhir-akhir ini rambutnya pendek. Dan ternyata juga seorang penulis buku! Dan juga seorang musisi! Penulis dan musisi. Wuih sedap juga.

Lagunya ini bergenre indie, sendu sendu gimana gitu. Bikin para pendengarnya ini makin larut. Buktinya aja gue larut, larut oleh senyuman mu.

Lagu-lagunya bagus banget didengerin di kondisi apapun, namun lebih bagus didengerin saat lagu sendu sih. Let's play.

---

Hingga Napas Ini Habis

Tetaplah disini, jangan pernah pergi
Meski hidup berat, kau memiliki ku
Ketika kau sakit, ketika hati mu terluka
Ku kan menjagamu hingga napas ini habis

Lagu pertama yang gue denger ketika pertama kali search Fiersa Besari di youtube. Lagu yang bikin gue jatuh cinta sama alunan musiknya. Kelihatan pada lagu ini buat seseorang yang kita cintai, mencintai dan menjaga seseorang itu sampai napas ini habis. So sweet ya.


Celengan Rindu

Pasti belum ngedengerin lagu ini aja, melihat judulnya saja kita sudah tahu bahwa lagu ini mengisahkan seseorang lagi rindu sama seseorangnya.

Dan tunggulah, aku disana memecahkan celengan rinduku
berboncengan denganmu mengelilingi kota
menikmati surya perlahan menghilang.

Duh, gue pas dengerin lagu ini ngebayangin, si cowok sama si cewek lagi keliling kota, pake vespa. Keliling kota berdua setelah menabung rasa rindu mereka, mungkin mereka lagi disibukkan akfititas seperti kuliah ataupun kerja.

Hingga kejam nya waktu, menarik paksa kau dari pelukku
Lalu kita kembali, menabung rasa rindu saling mengirim doa
Sampai nanti sayangku.

Dan akhirnya mereka kembali jauh, merindu lagi. Dan mereka berdua hanya bisa berdoa untuk satu sama lain, dan menunggu waktu berikutnya buat bertemu. Yang lagi LDR juga cocok buat dengerin lagu ini. Liriknya sederhana namun asik.


Garis Terdepan

Bila kau butuh telinga tuk mendengar
Bahu tuk bersandar
Raga tuk berlindung
Pasti kau temukanku di garis terdepan

Gausah dijelasin lagi ya kalo lirik yang satu ini. Soalnya enggak ada kata-kata lain lagi buat mendeskripsikan bagaimana seseorang begitu... ya begitu.


Konspirasi Alam Semesta

Ada banyak hal yang gue suka dari lagu-lagunya Fiersa Besari ini, dan di lagu Konspirasi Alam Semesta ini seolah-olah Bung, sapaan akrab Fiersa, berpuisi. Dan juga kata-katanya cukup melankolis. Lirik pada lagu ini enggak terlalu panjang. Tapi bagus banget buat di dengerin.

Gue penggal lirik akhir lagu ini ya,

Aku milikmu
Aku milikmu
Aku milikmu, esok dan nanti
Aku milikmu.

Oia, Konspirasi Alam Semesta ini juga jadi judul salah satu karyanya Fiersa Besari.


Rumah

Buat yang kangen rumah, buat yang lagi kuliah jauh dari rumah alias merantau, dan untuk alasan apapun, dengerin lagu ini. Kalo bisa sih duduk tepi pantai, resapi lagunya hingga senja tenggelam hilang.

Kita hanya berjarak
Namun bukan berpisah
Bentangan kilometer
Untukmu kan kutempuh

Engkau adalah rumah
tempat yang paling indah
dipelukkanmu sayang
Aku akan pulang

Jadi lagu favorit kamu yang mana? 
Share:

Minggu, 07 Januari 2018

Pembatas

Kadang membeli sebuah buku/novel, pas udah buka plastik eh udah dibolak balik halamannya satu satu sampe akhir, gue kesel. Gue ga menemukan sebuah benda terpenting bagi para pecinta buku,

Ya pembatas buku.

I'm not a person who like folded page in a book. Kalo gue lipat lipat aja gitu halaman tuh buku untuk menandai terakhir gue baca halaman berapa, ya sayang ujung kertasnya rusak, nanti kalo keseringan gini buku gue jadi rusak, ya pasti gue yakin beberapa dari kalian gak suka atau malah benci banget buat ngelakuin aktifitas hina ini.

Pengalaman ngelipat halaman buku buat jadi pembatas tentu aja gue pernah, itu tuh buku cetak sekolah, yang kalo nandain pr/tugas tinggal lipet aja, atau malah dicoret coret. Ya gue mikir kan buku yang punya perpustakaan sekolah, gapapa. Namun gue mau berhenti buat begituan, toh nantinya gue mau buat perpustakaan pribadi, nanti juga ada yang minjem buku, ngelakuin hal yang sama dengan apa yang gue lakuin dulu, jadinya karma.

Tentang pembatas buku, emang sih gue masih belum paham dalam sistem nerbitin buku, berapa biaya yang diperlukan sebuah penerbitan untuk menerbitkan sebuah buku, lalu berapa biaya buat membuat pembatas buku yang ukurannya hanya kecil. Itu semua masih gue belum pahami. Namun, ya gimana lagi kita sebagai pembaca hanya bisa menerima semuanya, pergi ke toko buku, ambil, bayar, lalu baca.

Banyak juga, ada beberapa buku yang pernah gue beli, didalemnya termuat satu benda kecil nan penting ini. Setiap kali abis buka plastik buku, buka halamannya, yang gue cari emang pembatas buku. Kalo gaada gue hanya bisa selo dan menghelas napas.

"Yah gaada pembatasnya, huala" (dalem ati)

Tapi selain dari pembatas buku pemberian penerbit, kadang ada banyak benda yang bisa dijadikan pembatas, ada banyaaak sekali.

Mau contohnya?

Hanger pakaian, bon laundry, pensil, kabel usb, sisir, juga bisa. Barang barang harian yang kadang anti mainstream juga sebagai pembatas. Iseng aja, ada benda yang deket sama gue, gue comot dan selipin di halaman buku. Simply pembatas buku ye.

Namun, pembatas buku pemberian DemaBuku ini keren juga sih,


Diselipi kutipan dari Pramoedya Ananta Toer, terima kasih dema buku. 
Share:

Senin, 01 Januari 2018

[Review Buku] Rumah Kertas

Seorang profesor sastra di Universitas Cambridge, Inggris, tewas ditabrak mobil saat sedang membaca buku. Rekannya, mendapati sebuah buku aneh dikirim ke alamatnya tanpa sempat ia terima: sebuah terjemahan berbahasa Spanyol dari karya Joseph Conroad yang dipenuhi serpihan-serpihan semen kering dan dikirim dengan cap pos Uruguay. Penyelidikan tentang asal usul buku aneh itu membawanya (dan membawa pembaca) memasuki semesta para pecinta buku, dengan berbagai ragam keunikan dan kegilaannya.


***




twitter.com - Marjin Kiri
                                                         
Judul Buku: Rumah Kertas
Penulis: Carlos Maria Dominguez
Penerbit: Marjin Kiri
Tahun Terbit: 2016
Jumlah Halaman: 76 halaman
No.ISBN: 978-979-1260-62-6
Genre: Novel


Kesan Pertama

Buku yang bener-bener tipis yang pernah gue baca, maksudnya novel tertipis yang pernah gue baca. Only 76 halaman. Sampulnya bergambar seorang lelaki tua yang wajahnya tersusun oleh beberapa buku yang menyerupai bentuk wajahnya. Udah lama kali ngidam ini buku, liat-liat review di goodreads dan instagram, akhirnya beli di Demabuku. Thanks, dem.


Hanya perlu beberapa jam bagi gue untuk melahap buku ini. (enggak tau kalo orang lain). Kalo dilihat dari sampulnya, menarik juga. Orgasme buku?


Bagian dalam buku: singkat cerita

Berawal dari tokoh aku, ia menceritakan tentang seorang dosen dari Cambridge University tertabrak mobil saat membaca buku puisi karya Emily Dickinson. Lalu rekannya mendapati paketan buku yang dialamatkan pada alamat sang dosen yang telah meninggal itu. Dan dari buku "misterius" itulah tokoh aku ingin mengetahui asal usul buku tersebut dan perjalanan ini dimulai. Maniak buku, bibliophile.


Di Montevideo, seseorang bibliofil yang juga pemilik toko buku, menyuruh tokoh aku untuk menemui salah seorang bibliofil juga yang menurutnya, tau tentang keberadaan buku tersebut dan siapa yang mengirimnya ke alamat si dosen.

Delgado memulai menceritakan seseorang yang maniak buku, maksudnya maniak buku yang terkadang tak masuk akal, bisa dikatakan gila, dan kisah haru karna melenyapkan benda terpenting dihidupnya.




Pendapat gue tentang buku ini

Buku ini sangat, sangat, dan sangat gila. Bagaimana enggak, buat nyusun buku aja perlu mengidentifikasi apakah penulis A baik hubungannya dengan penulis B. Kalo kedua penulis ada cekcok pribadi, maka penyusunan buku harus terpisah, dijauhkan. Segitunya ya. Alhamdulillah rak buku gue penulis-penulisnya gaada yang berantem hahaha. 

Memang, ini buku yang perlu dibaca sekali untuk para penggila buku, bibliophile, book addict dan bahkan bisa berkali-kali biar merasakan dunia pecinta buku yang fantastis. Membaca buku ini membuat gue semakin ingin dan ingin menambah koleksi di rak (padahal belum ada rak buku, masih ditaruh di meja belajar). 

Dan ada dua hal yang dapat gue pelajari dari novel ini, yaitu fanatisme yang berlebihan itu ga baik. Terlalu gila. Juga dalam diri kita harus mempunyai sifat kehati-hatian untuk bertindak dan melakukan sesuatu.

Membaca buku ini juga menambah pengetahuan sastra gue, mulai dari disebutkannya nama penulis beken, dan istilah-istilah lainnya. Setelah baca ini jadi pengen bangun perpustakaan pribadi dirumah, ya untuk saat ini tidak, mungkin suatu saat nanti pas udah punya rumah sendiri

Beli, (minjem juga boleh), baca, dan kau akan masuk ke dunia pecandu buku yang kadang jika ditelaah tak masuk akal. 


***
Membangun perpustakaan adalah mencipta kehidupan. Perpustakaan tak pernah menjadi kumpulan acak dari buku-buku belaka.-on page 26
Btw, pernah kepikiran ga punya parfum yang aromanya bau buku? Buat pecinta buku itu bisa bikin orgasme.
Share: